| Dok|FMK |
Setiap tanggal 10 November bangsa Indonesia memperingati hari sangat bersejarah, yaitu Hari Pahlawan Nasional. Pada tanggal tersebut, gerakan rakyat menunjukkan titik klimaksnya pasca kembalinya Inggris dan pasukan sekutunya pada tanggal 15 September 1945 ke Indonesia. Padahal pada saat itu Indonesia sudah mendeklarsikan diri sebagai bangsa yang merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.
Artinya, bangsa koloni kembali ingin menguasai Indonesia saat kemerdekaan Indonesia belum genep satu bulan. Dengan alih-alih, ingin melocoti persenjataan sisa-sisa tentara Jepang dan ingin membebaskan tawanan Jepang, dengan cepat mereka menguasai medan dan kekuasaan di Indonesia. Salah satunya adalah Jakarta dan Surabaya sebagai titik sentral.
Menanggapi hal tersebut, masyarakat bergejolak dan melakukan perlawanan di mana-mana. Di Surabaya, masyarakat luas berkumpul dan melakukan aksi agar bendera Belanda diturunkan dari Hotel Amato. Dalam perundingan tersebut, Sidiq gugur sebagai pahlawan setelah kena peluru timah dari tentara Belanda yang berjaga di tempat. Suasana mencekam dan perlawanan masyarakatmakin menjadi-jadi.
Bendera Belanda berhasil diturunkan dan disobek sehingga hanya tersisa warna merah putih. Dan bendera itu digerek kembali sebagai tanda perlawanan untuk mempertahankan kedaulatan Negara Republik Indonesia. Gerakan aksi tersebut dilakukan dengan gagah berani tanpa memperdulikan nasib, nyawa dan keluarganya, karena bagi mereka adalah 'Sekali Merdea Tetap Merdeka, Merdeka atau Mati.'
Pada saat itu pemerintah mengalami kegamangan, karena aksi perlawanan terjadi dimana-mana. Kiai Jadul Maula (Ketua Lesbumi PBNU) menyebutnya, bahkan pada saat itu Presiden Soekarno tidak PD untuk melawan penjajah. Sehingga beberapa kali perundingan agar masyarakat tidak melawan terjadi dan kondisi pun berangsur-angsur meredah.
Dalam kondisi kekhawatirannya, pihak belanda bahkan mengancam agar masyarakat dan gerakan pemberontakan tidak dilakukan. Hal tersebut justru menjadikan para pemuda dan masyarakat makin berang. Akhirnya perlawanan terhadap bangsa koloni makin menjadi-jadi di setiap tempat. Teruntuk di Surabaya.
Di tengah kondisi konflik dan perlawanan masyarakat, menuntut semua pihak bersikap. Integritas masyarakat sangat diperlukan untuk mencipatkan power melawan Tentara Pemenang Perang Dunia II itu. Tidak terkecuali peran tokoh agama; lahirnya Resolusi Jihad 22 Oktober oleh KH. Hasyim Asy'ari misalnya, adalah bentuk keberpihakan dan ketegasan para ulama untuk mempertahnkan kedaulatan Negara.
Pada tanggal 25 Oktober Pesan Resolusi Jihad 'Membela Tanah Air adalah Fardlu 'Ain' mengudara, dan pada tanggal 27 Oktober media Kedaulatan Rakyat edisi 26 Oktober menyebarkan isi Resolusi Jihad sebagai upaya propaganda media mempertahankan kemerdekaan. Akhirnya, pesan Resolusi Jihad itu menemukan titik krusialnya dan membangkitkan tokoh agama dan lapisan masyarakat ta'at agama merasa punya tanggungjawab untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sejak tahun 2015 pemerintah melalui Keppres no. 22 tahun 2015 meresmikan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri. Menurut penulis, keputusan admintrasi ini memiliki kesan bahwa pemerintah lamban memberikan apresiasi. 22 Oktober 1945 lahir sebagai bentuk perjuangan, tahun 2015 baru mendapatkan apresiasi. Tetapi hal ini bukan perkara yang cacat.
Tahun 2015 ditengarai oleh pergulatan platform media sosial sebagai alat propaganda pemecah belah bangsa. Ketetapan Hari Santri 2015 di sisi lain adalah bentuk reinterpretasi semangat Resolusi Jihad pada tahun 1945. Sehingga, spirit itu harus tetap dilestarikan dan mencakup kepada seluruh elemen bangsa untuk menjaga NKRI. Ringkasnya konteks tahun 2015 sebagai bentuk respon era 4.0.
Era 4.0 adalah "Revolusi Industri keempat, bagaimana teknologi seperti kecerdsan buatan, kendaraan otonom, dan internet saling memengaruhi kehidupan manusia." Sehingga, andai kita memperhatikan, banyak kemudian para kiai, santri dan pengasuh pondok pesantren diseluruh penjuru menjadikan media sosial tersebut sebagai medan dakwah wajib untuk mempengaruhi masyarakat agar tidak terjebak kepada pemahaman yang salah dan mengakibatkan disintegrasi nasional.
*Penulis: Misbahul Wani: Social Media Manager FMK Asisten Dosen Peneliti di LPPM UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Posting Komentar